Di awal nge-blog ini, aku sempat gembira dan cemas. Hmm,
istriku bilang kalau dirinya sedang hamil.
Gembira karena akan ada si kecil yg selalu membuatku
terpana. Cemas karena saat ini keuanganku sedang sulit.
SubhanalLoh, hanya kepada Engkau tempat mengadu.
Perkembangan kehamilan istriku yg ketiga ini sempat
membuatku agak ’stress’. Keluhannya lebih hebat
daripada anak pertama dan kedua. Entah apa penyebabnya.
Jelang bulan ketiga, hasil pemeriksaan bidan bulan-bulan
lalu kami rasakan tidak memuaskan, jadi kali ini kami
periksa ke dokter umum. Hmm, diduga sudah hamil 4 bulan
-diraba dari besarnya kandungan, padahal istriku
menghitungnya 3 bulan !
Ada sesuatu yg tidak beres, tapi kami hanya bingung.
Akhirnya seminggu kemudian, kami periksa ke dokter
kandungan. Kami harapkan sebuah kepastian tentang
kehamilan ini.
SubhanalLoh, setelah USG diketahui istriku bukan hamil
normal tapi hamil ‘anggur’. Wah, dasar ‘wong ndeso’, USG
aja baru tahu apalagi hamil anggur ! Sayangnya dokter
satu ini langsung ‘menodongkan’ jurusnya. “Langsung saja
rawat inap dan besok di-kuret”. Apalagi ini ?
Hanya kegalauan, itu saja yg menggelayuti diriku dan
istri. Biayanya tidak murah, mengingat kami periksa di
RS khusus, bukan RSUD. Tapi harus ada tindakan …
kami terima rujukan tersebut, biaya kami pikirkan
belakangan.
Saat ini, rawat inap dan kuret sudah selesai. Kami kaji
ulang kenapa ada peristiwa ini dan harus bagaimana
kami ini ? Inna lilLahi wa inna ilayhi roji’un. Kami
kembalikan semuanya kepada Alloh Ta’ala jua.
NastaghfirulLoh. Kami minta ampun atas dosa dan
kesalahan kami.
Kami lebih rukun lagi setelah kejadian ini. Aku sendiri lebih
hati-hati dan tidak lagi mudah marah. Hanya memang ada
ganjalan terkait dengan penyakit ini, setidaknya apa itu
hamil anggur ? AlhamdulilLah ada blog yg gamblang
menjelaskan hal tsb. Hamil Anggur dari Cak Moki
Lalu yg kedua, mengapa dengan mudah sang dokter
‘menodongkan’ perawatannya, tanpa memberi pilihan
tindakan apa yg bisa ambil selain mengikuti rujukan
‘bisnis’ nya. Yg terasa bagi kami, ‘wong ndeso’
(TM=tenanan mas) di kelas III tempat rawat inap
istriku juga ada 7 bangsal lain yg dihuni warga menengah
ke bawah. Sementara biaya perawatan medis tak kurang
dari 2 juta rupiah !
Aku hanya berpikir dan menghela napas, mengapa tidak
ada pengobatan murah untuk rakyat.
Hmm … jadi terbayang kiosnet ku yg kecil ini. Ada rasa
ingin memurahkan hati buat mereka yg membutuhkan
dari warga menengah ke bawah. Tapi apalah artinya
kata-kata itu bagi sebuah lembaga ataupun pebisnis …
(Bahkan malam hari ketika asyik menemani tamu sambil
nonton tv -di RS-, aku mendengar seruan 21 Mei 08
sebagai hari ‘unjuk sosial’ para dokter Indonesia. Ah
kenapa aku serasa berandai-andai ya ? )
Sungguh tidak ada apa-apa disini … yg ada hanya
kegalauan seorang perantau asing di dunia fana.
WalLohu A’lam wal Musta’an.

